Hijrah? Tanyakan dulu hatimu.

Hijrah. Alhamdulillah. siapa yang tak bahagia, melihat saudara-saudara semuslimnya berhijrah. Mengubah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi sebaik-baik muslim, sebermanfaat mungkin menjadi manusia. Apalagi jika diri sendiri yang menjalaninya. So deeply more than anything.

Bagaimana bisa kita menyebut diri kita berhijrah?

Jangan sampai kita hanya jalan di tempat. Tidak bergerak. Merasa sudah berpindah, tapi tetap di tempat yang sama.

hijrah (n). Tanyakan dulu hatimu. Niatnya karena apa? karena Allah atau ada alasan lain yang terselubung menjadi latarbelakang hijrah yang sedemikian hari ditata?

hijrah (n). Tanyakan dulu hatimu. Apa semua tulus hanya ingin menggapai ridha Allah? atau hanya mau mengumpulkan sekelumit pujian dari manusia2 berakal?

hijrah (n). Tanyakan dulu hatimu. Apa Ibadahmu semakin baik dari kemarin saat sebelum kamu merasa berhijrah?

hijrah (n). Tanyakan dulu hatimu. Apa sikap mu sudah sejalan dengan niatmu untuk menjadi manusia yang lebih baik?

hijrah (n). Tanyakan dulu hatimu. Apa cukup sudah hidupmu bahagia dengan ciutan “cie sudah hijrah”, ” barakallah semoga istiqomah”, dan lainnya?

🌼🌼🌼

Hijrah bukan hanya tentang semakin panjangnya jilbab seorang muslimah, bukan hanya tentang seberapa banyak sunnah Rasulullah yang diterapkan, bukan hanya tentang seberapa banyak majelis ilmu yang di hadiri, bukan hanya tentang menjadi lebih baik, bukan hanya tentang seberapa banyak bacaan Qur’annya dalam sehari, bukan hanya seberapa khusuk ibadahnya.

Hijrah bukan hanya tentang itu semua. Come on, make it simple. Hijrah itu tentang menanyakan hati dahulu, perihal niat yang dibangun. memperbaiki niat ialah sebaik-baik hijrah. Masyaa Allah.

Terlepas dari itu semua, sadarilah bahwa manusia memang tak luput dari kesalahan, jika merasa niat sudah Lillah, tapi masih berbuat salah. Suatu kewajaran yang tak dapat dinafikan. Setidaknya niat telah baik, maka baik pula langkah dan tujuannya kelak.

Innamal a’malu bin niyyat.

kedalaman hati dan ketulusan niat seseorang, layaknya kata Alif lam mim, yang bermakna Wallahu A’lam, hanya Allah yang tau.

satu hal yang perlu diingat, manusia itu haus pujian. Kalau merasa sudah hijrah, tapi masih haus pujian dari manusia, maka niatnya perlu dicek kembali.

tidak terkecuali, aku.

Advertisements

1 step closer [sempro day]

January 11 th, 2019

Thanks God , untuk pagi yang bersahabat dengan mood, bagaimana tidak, mentari mulai menjulang, bersamaan dengan rasa haru karena sebentar lagi ujian proposal penelitian dimulai. Meski sebenarnya, need more sleep karena seharian kemarin betul-betul hectic dan ga tau mau bilang capeknya seperti apa, yang jelas mata baru bisa terlelap sekitar pukul 12 malam. Padahal, tau sendiri kan ujian nya hari ini pukul 07.30 WITA, ya kalau sesuai jadwal.

paginya, Alhamdulillah bisa tiba tepat waktu di ruang ujian, 20 menit kemudian, my lovely dosbing datang, pak Ahmad dan Ibu Fauzia, tinggal menunggu 1 dosen penguji yang akan datang, karena yang 1 nya lagi dinas ke Jkt.

Baru kali ini syirah merasa over nerveous, iya. suwer. Mungkin karena selama kuliah baru merasakan ujian semacam ini, atau mungkin karena rumor yang beredar tentang karakter dosen penguji syirah? berbagai kemungkinan muncul di benak

Setelah beberapa kali di telpon, akhirnya penguji nya datang, dan… apa yang terjadi? Nerveous ku yang tadi benar2 over, hilang seketika saat dosen Penguji mengkritik isi proposalku. Dengan sekelumit kebingungan, syirah berusaha jawab semua apa yang syirah tau, pun lebihnya ngangguk2 dengar nasehat bin arahan beliau.

Rupanya persiapan semalam, mulai dari latihan match penjelasan dengan tampilan slide ppt buyar dan berjalan tidak sesuai rencana. PPT yang dibuat tidak dipakai karena waktu yang mepet sampai menyiapkan proyektor pun kurang.

Dengan penuh kebimbangan dan keterpaksaan, berusaha dijelaskan dengan berpatokan sama naskah yang ada, hingga penguji selesai menyanggah isi proposal. Dengan nada tegas, arahan yang banyak, sampai hampir mewek. Entahlah, ini hari ujian atau hari drama bagi syirah wkwk.

But, finally done 🙂

“Ya, demikian tadi ujian proposal dari saudari Insyirahsyah Habibie, dan dinyatakan layak untuk dilanjutkan ke penelitian dan penyusunan skripsi.”- Pak Achmad

Alhamdulillah, One step closer juga syirah. Serasa, lelah beberapa hari belakangan terbayar, setelah proposal penelitian dinyatakan layak untuk dilanjutkan. Masyaa Allah tabarakallah.

“Indeed, with hardship will be ease.” QS: 94

Thanks to my “hamdalah squad” yang telah membantu di hari sempro syirah. Inni Uhibbuka Fillah

faculty of law, Hasanuddin University

Endless love

بسم اللهارحمن ارحيم

Endless love is love for mother and love from mother. Althought separated by death.

MOTHER, HOW ARE YOU TODAY?

🌻

Allah Subhanahu wa ta’Ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
(QS. Luqman 31: Ayat 14)


Kasih sayang antara Ibu dan anak tak akan pernah bisa diukur dan dibandingkan dengan hal apapun. Meski tertatih, terpisah jarak.

Kita belajar tentang kasih dan kelembutan lewat seorang Ibu. Belajar arti perjuangan darinya, belajar arti kesabaran lewatnya, yang demikian dalam memperjuangkan kita bertegur sapa dengan alam yang indah. Menuai jalan dalam tujuan yang indah.

Bahagianya seorang Ibu, cuma satu, yaitu ketika anaknya bahagia, saat itu jangan harap ia menepis sedih dalam raut wajahnya, karena itulah kebahagiaannya. It’s hear so simple of happiness.


To every mother in the world,

It feels so blessed to have such a wonderwoman like all of u, thanks for loving and caring us in everysingle thing, thanks for giving us all we need, thanks for forgive us when we are wrong, thanks for hearing all our stuff, thanks for being our bestfriend ever ever after.

Allahu Yahmik Wallahu Yuhbik.

Aamiin ya Robbal Alamin.

Loving children

In Islam We learned how to loving childrens. So, it will be teach us how to being childrens lover.

The Prophet Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, said :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا

Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menshahihkannya dalam Riyadhush Shalihin).”

Menyayangi sang penarik senyum, dalam segala kondisi. Melihat tingkahnya yang lucu, tubuhnya yang mungil, tatapannya yang tulus, dalam keteduhan hati.

Qurrota a’yuna.

Menyayanginya layak sebuah pekerjaan paling asik yang tak pernah melelahkan jiwa, walau kadang raga merasa ingin usaikan tapi kekuatan kasih melihatnya yang begitu suci tanpa noda, tak juga lekas menyudahi.

Bayi, balita, Anak yang masih kecil. Menggemaskan. Mencintainya layak teman, menemani tawanya yang tak henti, menjaga dirinya yang selalu merasa ingin dilindungi.

Duhai anak kecil yang selalu menjadi perindu hati, semoga lekas menjadi anak yang soleh dan atau solehah, berkembang dengan penuh kasih, tumbuh menjadi pribadi yang sederhana nan berderma, belajar mencintai setiap episode hidup dari sang pemelihara kehidupan.

امن ي ربل ءلمن

Aamiin ya Robbal Alamin.

Espicially to my dearest nepphew : Muhammad Rifqy Al farizki and Musa Al Fatih Abdurrahman

And also to other childrens that always giving smile for us.

Titik Lemah

Sumber gambar : instagram.com/mediakita

Apa yang menjadi titik lemahmu?
Saat titik lemah kita hadir, di saat itulah Allah menguji kita. Entah dengan menilai bagaimana kita menghadapi situasi dengan cara terlemah kita sekalipun.

Titik lemah,

Mungkin karena pikiran yang negatif atau buruk.

Jangan biarkan pikiran selalu menjadi titik lemah kita, pikiran yang buruk membawa kita semakin terpuruk hingga mencapai titik terlemah.

Mungkin karena hati yang patah atau luka.

Jangan biarkan hati selalu menjadi titik lemah kita, perasaan yang buruk karena apapun alasannya, selalulah berusaha menenangkannya dengan cara yang paling sederhana. Melapangkan segalanya, meski sulit.

Hati-hati dengan titik lemahmu

Habib Ali Zainal Abidin al-Hamid menjelaskan, “Setan ada di setiap bagian tubuh manusia melalui aliran darah. Mereka berkeliling di dalam tubuh untuk mencari titik terlemah manusia. Siapa yang lemah dalam harta, maka akan diuji dengan harta. Siapa yang tak kuat digoda wanita, ia pun akan diuji dengan wanita. Demikian juga bagi siapa yang lemah di bidang jabatan, dan sebagainya.

Setiap orang pernah merasakan titik lemah yang sering sekali mengganggu tingkat emosionalnya. Bahkan rindu yang berlebihan pun mampu menjadi titik lemah seseorang. Lalu mengapa rindu itu tercipta?

Mungkin jawabannya adalah karena Allah ingin melihat bagaimana kita menghadapi titik lemah itu tanpa melupakan Nya. Jawaban lainnya mungkin adalah karena Allah merasa ingin lebih dirindukan. Ahhh :”(

Semua titik lemah kita adalah ujian.

Tapi semua juga ada jalannya. Titik lemah itu bisa menjadi titik terkuat kembali, manakala seiring dengan bagaimana kita menghadapi segala hal yang menjadi titik lemah kita, tanpa lupa melibatkan Nya.

Titik lemah dan doa.

Dua hal yang semestinya saling bersahabat, tatkala titik lemah hadir, kembali berdoa untuk dikuatkan.

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
Yaa muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Diinik

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
[HR. At-Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, Al-Hakim 1/525]

Semoga selalu dikuatkan dalam titik terlemah kita. Sebab, kita semua lemah, lemah, tak ada daya dan upaya kecuali denganNya 🖤

Alhamdulillah ala kulli hal

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.

“Alhamdulillah ‘ala kulli hal“ 

Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.

Kalimat yang seseorang ucapkan ketika aku menjawab pertanyaan nya “apakah syirah sudah hijrah?”

Jawabku, “masih dalam tahap hijrah”

Lalu ia menjawab “Alhamdulillah ‘ala kulli hal”

Bukan aku terkesan pada bahasan hijrah-hijrah(an). Tapi, kalimat Alhamdulillah ala kulli hal.

Bahwa letak perbedaan mendengarkan kalimat yang baik dengan kalimat yang buruk itu nyata.

Hingga lewat dari 24 jam lalu aku mendengarkan kalimat itu, aku masih terbawa suasana saat mendengar ucapan itu.

Haru, bahagia, tersentuh. Ya, karena mendengar kalimat itu aku jadi ingin bahagia selalu, seperti kelelahan hari ini tidak aku rasakan karena kalimat yang aku dengarkan kemarin itu.

Padahal boleh dikatakan, hari senin adalah hari yang amat melelahkan. Tapi, senin kali ini beda, bukan karena hanya kalimat alhamdulillah ala kulli hal, tapi juga karena segarnya minuman yang dibelikan teman, hangatnya senyum yang dilempar di sudut-sudut ruang fakultas, bersenda gurau pada sesiapa.

Nampaknya aku mesti berterimakasih pada siapa-siapa yang telah membuatku berbahagia, untuk yang telah melontar kalimat yang mungkin terkesan kolot, dan tak berarti, bagiku kalimat alhamdulillah ala kulli hal sangat indah nian.

Mari bahagia dan bersyukur, ucapkan alhamdulillah di sela-sela kesibukan kita setiap harinya.

Sebab begitu banyak nikmat-nikmat yang kita dapatkan, banyak rezeki yang Allah titipkan kepada kita.

Tepat satu pekan lalu, seseorang berkata padaku :

“Ada yang lebih berat dari rindu, yaitu menghitung nikmat-nikmat Allah”

Lalu, maukah kita menghitung nikmat-nikmat Allah?

Berat, ucap Alhamdulillah saja.

 

-Selamat istirahat, wahai jiwa-jiwa yang penuh nikmat-

Free your mind from worries

Berapa lagi waktu yang terbuang sia itu akan terus dipakai untuk mengkhawatirkan sesuatu?

Khawatir. Apa yang telah menjadi kerisauan, sulit sekali untuk dijadikan mudah, rileks, santai, tanpa beban. Bagaimana mugkin, dalam seminggu, saya bisa tak khawatir? Walau hanya untuk tidak mengkhawatirkan akan bagaimana saya setelah ini?

Khawatir. Selalu saja khawatir. Khawatir jika saja apa yang direncanakan tidak berhasil. Khawatir, bila saja apa yang diinginkan tidak dapat terwujud. Khawatir, apabila semuanya berakhir buruk.

Khawatir, jika masih melakukan hal buruk yang pernah dilakukan. Khawatir, bila kebutuhan harian pun bulanan tidak dapat tercukupi. Khawatir, bila saja ditolak. Khawatir, bagaimana bila kita meninggalkan keluarga yang jauh di sana.

Bagaimana mungkin bisa khawatir?

Padahal kita tahu, ada Allah yang mengatur segalanya dengan sebaik-baik penjagaan. Kalau kita cuma diminta untuk berikhtiar, maka mungkin memang untuk mengganti kekhawatiran itu, hadirah yang namanya ikhtiar dan tawakkal.

Kekhawatiran kita akan semakin kecil manakala kita menyerahkan segalanya untuk diurus oleh Dia.

Bagaimana mungkin bisa khawatir ?

Padahal sering kali kita mendengar, “hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar ‘Rad:28)

Kalau yang diingat pemilik alam semesta ini, mana mungkin Allah tega untuk tidak membantu kita untuk tidak khawatir.

Karena kita perlu banyak-banyak mengingat-Nya. Bahkan bila saja memang mampu mengingat-Nya setiap waktu ,maka cukup dengan itu, kekhawatiran kita terhadap sesuatu menjadi berkurang. Sebab, kepercayaan pada-Nya jauh lebih penting daripada harus berkhawatir lagi.

Don’t worry be happy !